MENGAPA HARUS BELAJAR SEJARAH

 

MENGAPA HARUS BELAJAR SEJARAH

Oleh: Mursal Y

 

Mata pelajaran sejarah senantiasa kita temui sejak kita duduk di bangku pendidikan SD, SMP/MTS samapai tingkat SMA/SMK/MA, bahkan ada dibeberapa perguruan tinggi pada jurusan tertentu juga menjadikan sejarah sebagai salah satu mata kulia wajib. Mungkin pernah terlintas difikiran kita mengapa kita harus belajar sejarah  dan untuk apa kita harus belajar sejarah? Bukankah sejarah hanya sekedar mengetahui tentang peristiwa dan tokoh-tokoh di masa lalu.

Tulisan singkat ini secara sederhana akan mencoba membahas mengapa kita harus belajar sejarah. Selain dari itu belajar sejarah itu sesungguhnya belajar tentang apa. Apakah betul belajar sejarah itu hanya sebatas mengetahui dan menghafal peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh besar di masa lalu.

Keberadaan sejarah dalam kehidupan manusia adalah suatu hal yang sangat penting. Setiap individu memiliki sejarah dan membutuhkan sejarah dalam kehidupannya. Pentingnya sejarah bagi kehidupan manusia dapat kita lihat dari berbagai ungkapan tentang sejarah, misalnya; “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Atau dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendengar ungkapan terhadap seseorang yang angkuh dan lupa diri sering disebut dengan “lupa dengan sejarah”.

Pentingnya sejarah dalam kehidupan manusia menjadikan kata sejarah sebagai kosa kata yang sangat familiar bagi kita. Kata sejarah akan kita temukan meski bukan dalam bangku pendidikan. Dalam kehidupan sehari-hari kita akan sering mendengar orang berbicara tentang sejarah. Misalnya dalam sebuah obrolan di komunitas-komunitas, kedai-kedai kopi dan tempat berkumpul lainnya tanpa kita sadari perbincangan berbicara tentang sejarah. Bahkan ada yang menegaskan kalau yang dia bicarakan adalah sejarah. Saat memperbincangkan sesuatu salah seorang dari yang terlibat obrolan berbica tentang kejadian-kejadian dan sebab-musababanya. Atau kita juga sering mendengar orang bercerita tentang silsilah dan kejadian-kejadian yang dalam sebuah peristiwa Pertanyaannya apakah yang demikian itu adalah sejarah? Jawabannya iya,  yang demikian itu merupakan sejarah dalam pengertian umum.

Kalau ada pengertian sejarah secara umum tentu ada yang secara khusus. Pengertian sejarah secara umum adalah pengertian sejarah yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sementara yang dimaksud dengan penegrtian sejarah secara khusus adalah pengertian sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan. Tulisan ini tidak akan membahas lebih mendalam pengertian dan dari kedua konsep sejarah di atas. Tulisan ini akan lebih menekankan pembahasannya tentang mengapa kita harus belajar sejarah. Dalam pembahasan mengapa kita harus belajar sejarah kedua konsep sejarah sejarah baik secara umum maupun secara khusus akan tergambarkan secara gamblang.

Berikut ini akan diuraikan beberapa alasan mengapa kita harus belajar sejarah:

1.    Mengetahui Jati Diri

Kita sering mendengar pemberitaan seseorang yang terpisah lama dengan ibu kandungnya disebabkan oleh beberapa faktor berusaha mencari orangtua kandungnya. Waktu yang cukup lama dan jarak yang sangat jauh bukan merupakan halangan baginya untuk mencari dan menemukan  orangtua kandungnya. Tidak sedikit pengorbanan yang dialaminya untuk mencari dan menemukannya. Kita akan disuguhkan oleh tontotanan yang mengharukan saat pencarian lama dengan jarak yang jauh dipertemukan oleh suatu momen teretntu. Pancaran wajah kebahagiaan terpancar jelas di raut mereka.

Pertanyaanya mengapa dan untuk apa orang yang seperti dicontohkan di atas berusaha sekuat tenaga dan segala daya uapaya dengan berbagai cara untuk mencari dan menemukan orangtua kandungnya.  Jawabanya tidak lain karena orang tersebut ingin mengetahui jati dirinya. Akan ada suatu yang kurang dan hilang dalam kehidupannya kalau dia tidak menemukan silsilah dan asal-usul perjalanan hidupnya. Ada suatu hal penting yang hilang dalam dirinya. Suatu hal yang sangat penting yang harus ditemukannya. Saat dia menemukan kembali kepingan kehidupan yang selama ini hilang dalam hidupnya ada rasa puas dan bahagia sehingga membangkitkan percaya diri dan harga diri dari orang tersebut.

Selain dari contoh di atas kita juga menemukan sejumlah orang berusaha untuk mencari silsilah dan asal usul diri dan keluarganya. Mereka berasal dari mana keturunan apa. Kalau kita pertanyakan untuk apakah mereka bersusah payah dengan penuh perjuangan dan pengorbanan mencari silsilah dan asal-usulnya. Jawabanya tentu untuk jati diri sebagai pemenuhan kebutuhan psikologis dan social dalam pergaulannya di tengah-tengah masyarakat.

Mengetahui jati diri tidak hanya kebutuhan psikologis dan social seorang individu. Jati diri juga merupakan kebutuhan psikologis dan sosial komunitas yang lebih besar. Kelompok, masyarakat, suku dan bahkan sebuah bangsa membutuhkan jati diri. Jamak kita temukan di tengah-tengah masyarakat orang mempermaslahkan jati diri seseorang di tengah-tengah kelompoknya dikarenakan asal usul atau silsilah yang bersangkutan.  Mempermasalahkan jati diri tersebut baik besifat untuk kepentingan yang positif bahakan juga kita temukan untuk tujuan-tujuan memojokkan dan mendeskreditkan seseorang. Kita menemukan dalam pergaulan sehari-hari kata-kata orang asal atau dalam pergaulan masyarakat Minang disebut dengan urang asa, dan pendatang atau urang bawah lutuik dalam masyarakat lain disebut dengan priyayi, ningrat darah biru dan sebutan-sebutan lainnya.

Kalau kita tarik kepada hal yang lebih besar lagi, sebuah bangsa sangat membutuhkan jati diri. Bangsa yang besar akan dibangun oleh jati diri yang kuat. Jati diri sebuah bangsa akan terbentuk oleh perjalanan sejarah bangsa itu sendiri. Bangsa yang memahami dan mengerti akan sejarahnya akan melahirkan bangsa yang memiliki jati diri di tengah-tengah pergaulan dunia internasional. Maka tidak mengherankan mengapa pada bangsa-bangsa besar didunia sejarah dan mata pelajaran sejarah merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan bangsa tersebut.

Perang yang sangat dahsyat, senjata yang sangat canggih tidak akan efektif untuk menghapus sebuah bangsa di percaturan dunia. Kita bisa menemukan sejumlah bangsa yang dihancurkan oleh perang yang sangat lama dengan berbagai macam persenjataan modern dan teknologi canggih tetapi bangsa tersebut tetap eksis sampai sekarang. Palestina misalanya, bangsa Palestina telah mengahadapi perang dan kegannasan zionis Israel yang sangat lama. Tapi sampai saat ini kita masih menemukan Palestina sebagai sebuah bangsa dalam kehidupan dunia. Afganistan, mengahadapi kekuatan senjata dan perang yang panjang. Afganistan berperang menghadapi kekuatan terkuat di dunia, mulai dari Unisoviet sampai Amerika Serikat, tapi sampai sekarang Afganistan tetap eksis dan ada dalam perjalanan sejarah manusia di abad moderen.

Kalau mencermati uraian di atas, maka sebaliknya, untuk menghancurkan dan menghilangkan eksistensi sebuah bangsa dalam percaturan dan pergaulan dunia internasional sesungguhnya bisa terjadi dengan cara mencerabut bangsa itu dari akar sejarah dan jati dirinya. Kita juga menemukan dalam perjalanan sejarah umat manusia ada bangsa-bangsa yang pernah hebat dan besar namun sekarang bangsa tersebut tinggal dalam catatan sejarah saja. Romawi misalnya, Apakah ada dalam pergaulan internasional bangsa-bangsa di dunia ada bangsa yang mengklaim atau menyatakan dirinya sebagai bangsa Romawi ? Sangat sulit kita bisa menemukannya. Mereka kini telah terpecah dengan berbagai identitas kebangsaan yang baru.

2.    Sebagai Sarana Pembelajaran dan Pendidikan

“Manusia adalah makluk sejarah”

Pada beberapa kesempatan kita akan sering mendengar ungkapan yang mengatakan manusia adalah makluk sejarah. Apa sesungguhnya yang dikamsud dengan manusia sebagai makluk sejarah. Manusialah satu-satunya makluk yang membuat sejarah dan membutuhkan sejarah. Tidak ada makluk lain di muka bumi ini yang membutuhkan sejarah. Meskipun dalam perkembangan kehidupan moderen sekarang dengan berkembangnya komunitas-kominitas pencinta binatang kita bertemu dengan data-data sejarah hewan dan binatang. Sesungguhnya sejarah hewan atau binatang yang kita temukan dibuat dan dibutuhkan oleh manusia. Sejarah dan silsilah kucing misalnya. Kucing tidak membutuhkan sejarah dan silsilah akan dirinya. Sejarah dan silsilah kucing dibuat dan dibutuhkan oleh manusia pencinta dan pemelihara kucing tersebut.

Kalau demikian sesungguhnya apa itu sejarah sehingga dia menjadi penting bagi manusia dan kehidupannya ?

Sejarah adalah sebuah peristiwa di masa lalu kehidupan manusia yang lahir sebagai bentuk akibat dari proses berfikir manusia yang menyebabkan terjadinya sebuah perubahan dalam kehidupan tersebut.  Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lihat apa yang sesungguhnya kita pelajari dalam membaca atau belajar sejarah.

Belajar sejarah atau membaca sejarah pada hakekatnya yang kita pelajari atau yang kita baca adalah perubahan dan perkembangan pola pikir manusia di masa lalu yang mennyebabkan terjadinya perubahan dalam kehidupan manusia dan jejaknya masih dapat kita temui di masa sekarang. Pola pikir manusia menyebabkan manusia berbuat dan bertingkah laku dalam kehidupannya. Perbuatan-perbuatan manusia yang sebabkan oleh pola pikirnya akan menimbulkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun masyarakat. Perubahan-perubahn tersebut bisa yang berdampak positif dan kemajuan dalam kehidupan dan peradaban manusia bisa juga berdampak tragis dan menyedihkan. Dampak yang bersifat positif misalnya terjadi kemajuan dan lompatan ilmu pengetahuan, peningkatan taraf sosial dan ekonomi. Dampak negatif misalnya terjadinya perang, konflik social dan perpecahan.

Kalau demikian apa yang bisa kita pelajari dari membaca dan belajar sejarah.

Belajar dan membaca sejarah seperti di uraikan di atas kita membaca dan mempelajari pola pikir manusia dalam sebuah peristiwa kehidupan masa lalu. Sebuah peristiwa merupakan rangkaian kegiatan yang bersifat kausalitas atau hubungan sebab akibat. Tidak ada sebuah peristiwa yang terjadi begitu saja. Sebuah peristiwa merupakan akibat dari kejadian dan peristiwa sebelumnya dan sebuah peristiwa akan menjadi penyebab kejadian dan peristiwa berikutnya. Atau dalam bahasa lain sering juga disebut “hari ini merupakan akibat dan rangkaian dari masa lalu, sedangkan masa depan disebabkan oleh kejadian yang terjadi di masa sekarang”.

Dengan mempelajari sejarah kita bisa mengetahui sebab-musabab terjadinya sebuah peristiwa masa lalu dengan berbagai akibat dan dampaknya. Penyebab terjadinya peristiwa di masa lalu tersebut bisa menjadi pembelajaran untuk kita di masa kini dan masa depan. Sebuah peritiwa yang terjadi di masa lalu oleh sebuah sebab tertentu bisa saja kita tiru dan praktekkan di masa kini untuk menghasilkan sesuatu yang hebat dan besar sepeti yang pernah terjadi di masa lalu untuk mengulangnya kembali di di masa kini dan masa datang. Atau sebaliknya suatu hal yang pernah terjadi di masa lalu yang menyebabkan kerugian dan mala petaka bagi kehidupan manusia di masa lalu bisa kita hindari dan tidak kita ulang lagi di masa sekarang sehingga kerugian dan petaka tersebut tida terulang kembali di masa kini dan masa dating. Bisa dikatakan, bangsa yang mengulangi kesalahan yang sama berulang kali, atau orang mengulangi keselahan yang pernah dilakukan orang lain di masa lalu adalah orang atau bangsa yang tidak pernah belajar dari sejarah.

Sejarah bukanlah peristiwa yang bersifat einmaligh, kejadian yang terjadi satu kali dan tidak akan pernah berulang lagi. Sejarah bisa saja terjadi dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda. Sebuah pertiwa bisa akan terjadi di tempat dan waktu yang berbeda kalau penyebabnya sama.

Demikianlah tulisan singkat sederhana ini, semoga bermanfaat bagi yang membacanya.

Terimakasih


MENURUNKAN CAPAIAN PEMBELAJARAN MENJADI TUJUAN PEMBELAJARAN

 

MENURUNKAN CAPAIAN PEMBELAJARAN

MENJADI

TUJUAN PEMBELAJARAN

 

Oleh: Mursal Y

Guru SMAN 1 Ampek Angkek

Kab. Agam Sumbar

 

 

Capaian Pembelajaran atau sering disingkat dengan CP merupakan sekumpulan kompetensi dan ruang lingkup materi yang tersusun secara komprehensif.  Capaian pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase perkembangan.  Fase perkembangan menyusuaikan dengan perkembangan fisik dan psikis peserta didik.  Kompetensi dan ruang lingkup materi yang harus dicapai peserta didik disusun  dan dikelompok berdasarkan fase-fase perkembangan tersebut. Pada kurikulum merdeka fase perkembangan peserta didik dikelompokan mulai dari fase A sampai F. 

Fase A kelas 1-2 SD/MI/SDLB/Paket A

Fase B Kelas 3-4 SD/MI/SDLB/Paket A

Fase C Kelas 5-6 SD/MI/SDLB/Paket A

Fase D Kelas  7-9 SMP/MTs/SMPLB/Paket B

Fae E Kelas 10 SMA/MA/SMALB/Paket C

Fase F Kelas 11-12 SMA/MA/SMALB/Paket C

 

Sebelum membahas menurunkan Capaian pembelajaran (CP) menjadi tujuan pembelajaran (TP) ada baiknya kita melihat beberapa persamaan istilah yang terdapat pada kurikulum merdeka dan kurikulum 2013. Hal ini guna menghubungkan pemikiran kita antara kedua kurikulum tersebut sehingga kita bisa memahami kalau segmen-segmen yang kita temui pada kurikulum merdeka bukanlah hal yang baru sama sekali. Meskipun demikian bukan berarti antara keduanya suatu hal sama persis  melainkan adanya persamaan-persamaan.  Persamaan-persamaan tersebut anatara lain:

 

 Kurikulum 2013

 Kurikulum Merdeka

Promes (Program semester)

Prosem (Program semester)

Silabus

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Rencana Pembelajaran

Modul Ajar + (plus)

Kompetensi Inti (KI)

Capaian Pembelajaran (CP)

Kompetensi Dasar (KD)

Tujuan Pembelajaran (TP)

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

Indikator  ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP)

Penilaian Harian (PH)

Sumatif

Penilaian Tengah Semester (PTS)

Sumatif Tengah Semester (STS)

Penilaian Akir Semester (PAS)

Sumatif Akir semester (SAS)

Indikator Penilaian

Indikator Asessmen

Penilaian Teman sejawat

Formatif

 

Dari info grafis di atas tergambar bahwa CP yang kita temukan pada kurikulum merdeka sama posisinya dengan KI di kurikulum 2013 dan TP sama dengan KD di kurikulum 2013. Perbedaanya KI Telah disusun dan ditetapkan secara rinci sedangkan CP berisi komptensi dan ruang lingkup materi secara komprehensif yang disusun dalam bentuk narasi. KD sudah sudah ditetapkan oleh kurikulum melalui permendikbud nomor 24 tahun 2016 sedangkan TP disusun dan dirumuskan oleh guru mata pelajaran.

Penyusunan dan perumusan TP oleh guru mata pelajaran ini salah satu esensi kemerdekaan yang diberikan oleh kurikulum kepada guru. Guru memiliki keleluasaan dalam merumuskan TP berdasarkan lingkup materi, pertimbangan perkembangan peserta didik, kebutuhan belajar peserta didik, perkembangan dan azas keterpakaian dalam kehidupan peserta didik serta hal yang kontektual yang dihadapi dalam kehidupan.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan guru dalam menurunkan CP menjadi TP:

 

1.    Menganalisis Capaian Pembelajaran atau Analisis CP

Pemerintah menetapkan capaian pembelajaran (CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan dikuasai oleh peserta didik dalam satu fase. Namun demikian CP belum konkret untuk memandu guru dalam kegiatan pembelajaran. CP perlu diuraiakan menjadi tujuan pembelajaran supaya lebih operasional dan kongkret satu persatu sehingga peserta didik mencapai mencapai kompetensi yang ditetapkan di setiap akir fase.

Menguraikan CP menjadi tujuan pembelajaran memberikan kemerdekaan atau keleluasaan kepada guru untuk merancang pembelajaran dari awal yang disesuaikan dengan konteks lingkungan dan budaya serta hal-hal yang mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara menyeluruh. Guru dalam menguraikan CP ke dalam bentuk TP harus memahami dengan baik Capaian Pembelajaran mata pelajaran yang diampunya.

Untuk memahami CP mata pelajaran ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru seperti memahami  rasional karakteristik mata pelajaran, untuk memehami CP ini dapat dibaca tulisan sebelumnya, “CAPAIAN PEMBELAJARAN DAN PERSIPAN PEMBELAJARAN”

 https://historicalsmart.blogspot.com/2023/06/capaian-pembelajaran-dan-persipan.html  Memahamai capaian pembelajaran membantu guru untuk mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus dipelajari peserta didik pada fase-fase pembelajaran.

            Capaian pembelajaran yang diberikan oleh pemerintah ditulis dalam bentuk paragraf yang memadukan antara ranah pengetahuan dan ranah keterampilan. Pemaduan aspek pengetahuan dengan keterampilan bertujuan agar peserta didik mempelajari ilmu pengetahuan sebagai rangkaian yang berkaitan dan holistik. Menganalisis capaian pembelajaran sangat dibutuhkan oleh pendidik agar dapat mengetahui;

·         kompetensi apa saja yang perlu dimiliki peserta didik pada akir fase

·         kata-kata kunci apa yang penting dalam CP

·         hal-hal yang kemungkinan sulit dipahami peserta didik

·         apa target yang harus dicapai dalam pembelajaran

·         pada semester berapa bagian CP diberikan kepada peserta didik

·         berapa alokasi waktu yang tersedia

 

Analisis CP juga bermanfaat bagi guru untuk memantik ide-ide pengembangan rancangan pembelajaran.

            Ada berbagai cara yang dilakukan guru dalam menganilis CP salah satunya adalah dengan membuat infografis atau format.  Berikut ini salah satu bentuk formats yang dapat digunakan oleh guru:

 

ANALISIS CAPAIAN PEMBELAJARAN

 

Nama Satuan Pendidikan : SMAN 1 ………….

Mata Pelajaran                     :  ……………………

Fase                                       : ………….

Kelas                                      : ………….

Alokasi Waktu                      : ………….

Guru Mata Pelajaran           : ……………

 

NO.

Semester

CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)

Kompentensi

(KKO)

Kata-kata kunci

Materi

Aloksi Waktu

1

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

1

2

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

                                                                                      ………, ……………….2023

Kepala Sekolah                                                    Guru Mata Pelajaran

 

_______________                                                    __________________

 

2.    Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Hasil analisi CP selanjutnya harus diturunkan oleh guru ke Tujuan Pembelajaran (TP). Ide-ide tentang apa yang harus dipelajari dan kuasasi oleh peserta didik dalam satu fase diolah dengan menggunakan kata-kata kunci yang diperoleh dalam analisis Capain Pembelajaran (CP).  Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk prilaku kompetensi yang harus dikuasai, aktual dan terukur sesuai dengan apa yang diharapkan dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran.

Berikut beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum merumuskan TP;

a.    Mengetahui jumlah CP dalam satu CP

Capaian pembelajaran (CP) yang diberikan dalam satu fase disusun dalam beberapa Tujuan pembelajaran (TP).  Maka langkah  pertama yang dilakukan  adalah menghitung jumlah TP yang harus disusun dalam satu tahun atau dalam satu fase.  Cara menghitung jumlah TP ini adalah dengan mencermati kompetensi  yang harus dikuasi oleh peserta didik dalam satu fase.

Karena CP diberikan dalam bentuk narasi, biasanya masing-masing kompetensi akan dibatasi oleh tanda baca bisa berupa titik (.), koma (,) titik koma (;) dan tanda baca lainnya tergantung CP masing-masing mata pelajaran. Jumlah TP dalam sebua CP sebanyak tanda baca yang memisahkan kalimat narasi tersebut, atau sekurang-kurangnya jumlah TP adalah sebanyak Kata kerja Operasional (KKO) yang terdapat di dalam CP.

b.    Menganlisis keterkaitan masing-masing TP dengan elemen

Elemen mata pelajaran berisikan kompetensi yang harus dimiliki peserta didik serta  keterampilan proses apa yang dilakukan selama pembelajaran dalam satu fase.  Menganalisis masing-masing TP yang akan disusun dengan elemen sangat penting dilakukan agar TP yang disusun oleh guru bisa memenuhi tuntutan kompetensi yang terdapat dalam CP.

c.    Menurunkan KKO yang ada dalam CP untuk masing-masing TP ke dalam bentuk indikator.

Dalam buku panduan pembelajaran dan asessment tidak terdapat uraian yang mengharuskan guru menurunkan KKO Capaian Pembelajaran ke dalam bentuk indikator.  Namun demikian penulis menyarankan sebaiknya guru sebelum merumuskan tujuan pembelajaran menurunkan KKO terlebih dahulu ke dalam bentuk indikator.  Menurukan KKO ke  bentuk indikator akan membantu guru dalama menyusun KKTP dan asessment nantinya.  Untuk menurunkan ke indiator guru bisa menggunakan  taksonomi bloom atau taksonomi Bloom yang telah disempurnakan yang sering juga disebut dengan taksonomi Anderson. Hanya saja disini guru harus konsisten dalam menggunakan taksonomi, kalau menggunakan taksonomi Bloom, seluruhnya menggunakan taksonomi Bloom begitu juga sebaliknya.

Langkah selanjutnya adalah menyusun Tujuan Pembelajaran (TP). Penulisan Tujuan Pembelajaran sekurang-kurangnya mengandung komptensi dan lingkup materi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Tujuan pembelajaran dirumuskan mengandung unsure ABC dan D, yaitu audiens, behavior, condition dan degree, ruang lingkup materi serta metoda yang digunakan. Secara sederhana bentuk rumus tujuan pembelajaran (TP) seperti berikut:

Setelah proses pembelajaran dengan metode ……………. Peserta didik mampu:

  1. Memahami (KKO indikator)  ………  (lingkup materi)
  2. Menjelaskan (KKO indikator) …….   (lingkup materi)
  3. Dst

Dengan baik.

 

Tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru sebaiknya dituangkan dalam bentuk format yang memuat CP, TP, Indikator, Elemen, Materi dan hal lain yang dianggap perlu oleh guru.

 

Salah satu bentuk format dapat dilihat dalam contoh berikut ini

 

Contoh fromat TP

TUJUAN PEMBELAJARAN

(TP)

Nama satuan pendidikan: …………………

Mata Pelajaran                     : ……………….

Fase                                       : …………….

Kelas                                      :

 

No

CP

Tujuan Pembelajaran

Indikator

Elemen

Materi

Jam

 

 

1.    …….

1.    ….

2.    …..

3.    ….

4.   

 

 

 

 

 

2.

 

 

Dst.

1.    ,,,,

2.    …..

3.    …..

4.     

 

 

 

                                                                                ………….., …………….. 2023

Kepala Sekolah                                                       Guru Mata Pelajaran

 

 

______________                                                     __________________

 

 

*perlu dipahami bahwa tidak ada bentuk format yang baku, bentuk format dapat dikembangkan oleh masing-masing guru atau disepakati oleh satuan pendidikan untuk keseragaman

 

 

Terimakasih

Semoga bermanfaat

PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA KE NUSANTARA

                                         PROSES MASUK DAN BERKEMBANGNYA KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA KE NUSANTARA   Oleh: Mursal Y    ...